SURAT UNTUK JODOHKU
Oleh: NURUL KHOIRIYAH
Dalam remangnya ruangan, hanya denting jarum jam yang masih bergerak memutari waktu. Seorang wanita duduk bersimpuh menadahkan tangan. Air matanya bercucuran. Tak ada seorang pun yang membuka mata saat itu. Dia hanya seorang diri. Di dalam kubah bagaikan istana. Di rumahnya tak ada yang membuka mata saat itu
Rosidah, wanita berumur tiga puluh tahun yang belum juga mendapatkan pasangan hidup. Tetangga sudah sering menggunjingkan dirinya yang menjadi perawan lapuk. Ya, itu sebutan yang mereka berikan. Ngilu tetapi dia hanya diam.
Rosidah bukanlah sosok yang jauh dari kata sempurna. Dia wanita yang kaya raya dengan wajah yang ayu. Bukan hanya itu, dia juga memiliki hati yang mulia. Kecantikannya tak membutuhkan make up. Wajah bersinar yang selalu disiram dengan air wudhu.
Rosidah menitikan air mata. Memohon pertolongan dari yang kuasa. Doa yang belum juga terkabul sampai saat ini. Memiliki pasangannya sendiri.
Ya Allah, jika memang manusia selalu memiliki pendamping, dimana pendamping yang akan kau berikan untukku. Aku tak membutuhkan pria kaya dengan segudang ketampanan, aku hanya menginginkan pendamping yang sesuai dengan ketentuanmu. Pendamping yang seiman dan dapat membimbingku menuju jalanmu.
Itulah doa yang selalu dipanjatkan Rosidah setiap malam. Di tengah malam dan setiap waktunya. Dia terlalu lemah jika harus menanggapi omongan pedas tetangganya. Bahkan hampir setiap pagi omongan pedas itu mampir ke telinganya. Menusuk bahkan hingga tulangnya. Yang dilakukannya hanya mengelus dada dan mencoba sabar. Menerima kenyataan bahwa memang itulah dirinya.
Tetesan air mata mulai merembes hingga menjadi tetesan yang mulai berlinang. Rosidah menangis tergugu. Bukan karena nasib yang menimpanya tetapi, dia benar-benar tidak tahan. Hatinya berteriak kencang. Ya, dia hanya malu dan lelah mendengar cemoohan tetangga yang tiada hentinya.
*****
“Mbak Rosidah gak ke kantor?” tanya Bi Imah, pembantu rumah tangga yang sudah setia bekerja dengan keluarganya sejak sepuluh tahun yang lalu.
Rosidah yang saat itu sedang mengambil minum di dapur hanya tersenyum dan mendekati Bi Imah. Dia melihat tangan cekatan asisten rumah tangganya yang sedang memasak. Ah, rasanya ingin dia membantu tetapi, Bi Imah selalu menghalanginya. Meski begitu, dia juga seorang chef yang handal.
Ah, siapa yang akan mencicipi makananya jika dia memasak. Siapa yang akan memuji usahanya. Seorang lelaki yang akan menikmati santapannya dengan penuh cinta? Pikirannya melayang entah kemana. Membuatnya harus menghela nafas dalam. Memikirkannya saja membuat sesak didada.
“Mbak Rosidah kenapa?” tanya Bi Imah yang mendengar helaan nafas Rosidah.
Rosidah menengok dan tersenyum. “Tidak apa, Mbok. Mama dan Papa kemana?” tanya Rosidah tak melihat kehadiran dari orangtuanya.
“Oh, Non sama Tuan sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi.” Bi Imah masih sibuk dengan pisaunya.
Rosidah hanya mengangguk. Hari ini hari Jum’at sehingga orangtuanya harus berangkat pagi. Mengerjakan tugasnya lebih awal karena mereka akan datang ke pengajian yang rutin diadakan kantor.
Rosidah kembali menatap Bi Imah yang saat itu tengah memasak dan menyentuh pundaknya. Membuat wanita paruh baya itu menengok dan menatapnya heran.
“Kenapa, Mbak?”tanyanya penasaran.
“Ros boleh ikut ke pengajian bareng Bi Imah?” rasanya sudah lama dia tidak berkumpul dna sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin ini alasan mengapa dia belum juga mendapatkan kepercayaan jodoh. Karena dia masih sering mengeluh. Tidak sepenuhnya sabar dan ikhlas.
“Mbak Ros mau ikut?” Bi Imah mengulanginya lagi.
Rosidah hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum bak malaikat yang selalu menentramka. Sayang, belum ada lelaki yang memilikinya. Rosidah hanya berusaha menjadi lebih baik. Selama ini aku terlalu melupakanmu Ya Allah. Aku jauh dari kata umatmu yang sempurna. Meski dia tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Tetap saja dia merasa terlalu jauh dari kata taat.
*****
Rosidah duduk bersimpuh dilantai masjid tak jauh dari rumahnya. Berapa lama dia tak mengunjungi rumah Allah ini? Dia sering memilih sholat sendiri saat berada di kantor. Dia hanya malu karena pada saat usia yang sudah hampir lebih dari tiga puluh tahun masih begitu lemah. Memikirkan soal jodoh yang jelas-jelas memang ada untuknya.
“Lho, Rosidah ikut to.” Celetuk seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger.
Rosidah yang saat itu tengah melamun langsung sadar dan tersenyum. “Iya, Tante.”jawab Rosidah lemah lembut. Dia memang seorang gadis yang begitu lembut dan memiliki tata krama yang baik. Tetapi sayang, hingga saat ini dia masih terus melajang. Allah seakan tengah mengujinya.
“Tumben gak kerja. Biasanya berangkat pagi pulang malam.”sindir seorang yang berada didekat Ibu berkacamata.
Rosidah hanya tersenyum dan menanggapi dengan nada lembut. “Iya, Bu. Hari ini saya memang sengaja ijin. Lagi pula di kantor sudah ada, Papa yang juga ikut membantu.”
Senyum sinis terlukis dari wajah wanita tersebut dan menatap Rosidah sinis. “Itu karena dia baru sadar kalau anaknya sudah jadi perawan tua.”
“Iya, Rosidah. Kamu itu udah tiga puluh tahun tetapi belum punya pendamping. Anak saya saja sudah punya dua anak.” Timpal tetangga yang lain.
Rosidah hanya tersenyum menanggapi. Dia tidak mau menjawab dan hanya beristighfar dalam hati. Semoga Allah selalu menguatkan hatinya. Rasanya sakit mengingat kenyataan bahwa hanya dirinya yang masih lajang.
“Itu karena kamu yang sibuk dengan pekerjaan. Sampai tidak ada lelaki yang siap menikahimu. Seperti sekarang ini, kamu jadi masih lajang.” Ujar ketus Ibu berkacamata.
Ah, pikirannya benar-benar buyar. Air matanya siap mengalir tatkala mereka hanya membahas cucu mereka. Dia merasa orangtuanya juga menginginkan seorang cucu darinya. Tetapi apa daya jika memang dia belum diberikan kesempatan dan tanggung jawab menjadi seorang istri. Allah pasti tau apa yang terbaik untuknya.
Bi Imah yang baru saja kembali dari toilet mendengar Ibu-ibu tersebut menggosipkan tentang Rosidah. Mengatakan bahwa kecantikannya bukan murni sehingga tidak mendapatkan mendamping. Lewat susuk atau semacam hal gaib lainnya. Kupingnya terasa panas. Bi Imah langsung berjalan melewati mereka dan mendekati Rosidah yang masih diam meski sudah disakiti.
“Mbak Rosidah baik-baik saja? Kalau tidak kita bisa pulang saja.” ujar Bi Imah merasa kasihan dengan Rosidah.
Rosidah mencegah tangan Bi Imah yang siap menariknya. Dia menggeleng lembut dan masih dengan senyum. “Tidak perlu, Mbok. Kita ke sini untuk pengajian, kan? Saya baik-baik saja.”ujar Rosidah sekan tak berpengaruh dengan kalimat dari Ibu-ibu. Dia bahkan tidak sadar ada sepasang mata yang menatapnya takjub.
*****
Rosidah tidak menyangka jika Ustad yang diceritakan Bi Imah masih semuda yang dilihatnya. Tak ada wajah serius yang membuat semua pengunjung menjadi lelah dan bosan. Yang ada malah sebaliknya. Semua ibu-ibu pengajian tertawa setiap kali membahas mengenainya yang belum datang. Entah mengapa, Rosidah merasa itu cerita hidupnya.
“Jangan ge-er Ros. Siapa dia sampai menyukaimu?” tanyanya dalam hati saat tak sengaja dia melihat sang ustad menatapnya dan tersenyum.
Sepanjang pengajian, dia hanya menunduk dan tak pernah memperhatikan depan. Dia benar-benar membuang wajah. Tak seharusnya dia memiliki hati kepada pria yang bahkan baru beberapa detik ditemuinya.
Rosidah tersenyum. Dia belum mencintai lelaki tersebut. Dia hanya kagum, diusianya yang masih terbilang muda, dia sudah menjadi seorang Ustad yang dapat menyampaikan materi dengan begitu apik.
Satu yang diingatnya. Saat sang Ustad yang diketahui namanya adalah Talim itu mengatakan, ‘Coba kirim surat ke Allah melalui doa. Siapa tau Allah menyampaikan suratmu kepada jodoh yang tepat.’ Kalimat yang masih terngiang hingga pengajian usai.
Setelah usai, Rosidah ikut membersihkan masjid bersama dengan Bi Imah dan beberapa ibu-ibu lainnya. Ustad Talim juga ikut keluar untuk mengambil wudhu. Beberapa Ibu-ibu memang ada yang pulang dan ada yang masih menunggu untuk sholat Ashar berjamaah. Termasuk Rosidah.
Tak lama setelah itu, Ustad Talim masuk dan menjadi imam. Rasanya begitu sejuk. Adem dan tentram mendengar lantunan ayat Al-qur’an yang dibacakan leh ustad muda tersebut. Terutama Rosidah. Dia ingin menangis dan bersimpuh memohon petunjuk dari sang kuasa.
Setelah selesai, Rosidah keluar terakhir dengan Bi Imah. Dia harus ke toilet dan setelah kembali dia langsung melangkah pulang bersama dengan Bi Imah. Di jalan, dai berpapasan dengan Ustad Talim. Lelaki tersebut hanya tersenyum dan mengucapkan salam yang dibalas Rosidah dan Bi Imah.
“Bi Imah, ini siapa?” tanya Ustad Talim penasaran.
“Oh, ini Mbak Rosidah. Anak dari Nyonya dan Tuan, Ustad.” Bi Imah menatap Rosidah yang hanya menunduk.
Ustad talim menatap Rosdiah yang hanya menunduk. Bi Imah yang memperhatikan mereka berdua langsung tersenyum. Dia tau jika Rosidah menunduk, berarti dia merasa malu. Dia sudah bersama dengan Rosidah tak hanya satu atau dua tahun. Semua kebiasaannya pun dia hafal.
“Ustad, apa Ustad sudah memiliki calon?” tanya Bi Imah dengan tatapan jenaka.
Ustad Talim hanya tersenyum dan menggeleng. “Saya belum memiliki pendamping.”
Rosidah hanya diam mendengarkan. Dia tidak mau ikut campur dan menghayal terlalu tinggi untuk mendapatkannya. Dia tau dimana batasannya. Seorang lelaki biasa bahkan tak mau bersama dengannya. Dia ingat sudah hampir lima kali orangtuanya menjodohkannya dan hasilnya nihil. Semua kabur dan tak mau memenuhi keinginan Rosidah.
Beri aku mahar dengan surat Ar-Rahman. Aku tak mengharapkan apapun kecuali kau membawaku menuju ke jalan yang lebih baik. Menjadi imam untukku dan anak-ana kita kelak.
Hanya itu syarat yang diinginkan Rosidah. Tetapi dia bahkan tak mendapatkannya. Mungkin dai terlalu banyak menuntut. Dia mengharapkan seorang yang luar biasa untuk dia yang memang baisa. Iman yang maish minim. Masih sering mengeluh. Meski dia tak pernah meninggalkan puasa senin kamis. Bahkan dia selalu menjalankan sholat malam. Tetapi dia merasa semuanya memang kurang untuk mendapatkan lelaki yang benar-benar baik.
“Mbak Rosidah ya masih lajang, Ustad.” Celetuk Bi Imah membuat Rosidah yang berada didekatnya membelalak kaget.
“Bi Imah, apa-apaan sih.” Protes Rosidah tak enak hati.
“Gak apa, Mbak. Kali aja jodoh.” Bi Imah malah tersenyum dan melihat Ustad Tlim yang hanya tersenyum.
Rosidah tersenyum canggung dan menggiring Bi Imah menjauh. Setelah berpamitan, Rosidah membawa Bi Imah pulang. Tak jauh dari tempatnya saat ini. rosidah benar-benar malu dengan tingkah asisten rumah tangganya.
“Mbok Imah ini ada-ada aja.” Protes Rosidah sembari menaiki tangga ke arah kamar.
“Kali aja jodohkan, Mbak.” Bi Imah menanggapi dari bawah.
Rosidah hanya menggeleng dan tersenyum. Dalam hatinya berkata, “Amin.” Dia berharap mendapat orang yang seiman dengan tanggung jawabnya sebagai imam keluarganya. Membimbingnya menuju jalan yang jauh lebih baik.
*****
Ya Allah, jika jodoh yang kau inginkan masih berjalan terlalu jauh, maka dekatkanlah dia. Jodoh terbaik yang engkau maksudkan untuk hambamu yang serba kekurangan. Hamba yang tak akan pernah mencapai kesempurnaan karena memang tak ada mahluk yang sempurna. Hadirkanlah seorang pria yang mampu membawa hambamu ini menuju jalan kebaikan. Memang hamba tak pantas untuk memohon karena berjuta dosa yang telah hamba lakukan tetapi, hamba tidak memiliki tempat meminta kecuali kepada engkau sang penguasa alam semesta. Hadirkanlah jodoh yang telah lama engkau simpan Ya Allah. Hadirkan dia dengan caramu dan jadikan kamu dengan caramu.
Begitu doa yang selalu disampaikannya. Rosidah berada dikamarnya. Menadahkan tangan dengan penuh harap. Air matanya selalu berlinang ketika bersujud dan menadahkan tangan. Dia bukanlah orang yang sempurna. Dia hanya hamba yang juga memiliki kelemahan.
Rosidah sudah selesai sholat Maghrib dan dia sedang berkemas. Sebelum seseorang mengetuk pintu dan langsung dibuka. Tampak seorang wanita dengan kerudung merah darah melongo dari balik pintu. setelah tersenyum dai langsung masuk dan mendekati Rosdiah yang masih membereskan sajadah dan mukenanya.
“Sayang, kamu sibuk?” tanya Bu Eli, Mama Rosidah dengan lembut.
Rosidah menggeleng. “Tidak, Ma. Ada yang bisa Ros bantu?”
Mamanya menggeleng dan tersenyum. “Papa mau mengatakan hal penting. Kamu sudah ditunggu di bawah.”
Rosidah tersenyum dan langsung mengikuti mamanya. Dia tak menggunakan make up. Hanya setelah biasa dengan jilbab pasmina berwarna hitam. Selaras dengan celana bahan yang digunakannya. Hatinya berdetak lebih cepat. Apalagi yang terjadi? apa dia akan dijodohkan lagi? pikiran itu berkecambuk dan membuatnya takut. Dia takut jika harus dikecewakan lagi.
Langkahnya ragu menuruni tangga. Sudah banyak lelaki yang bertemu dan dikenalkan orangtuanya. Jujur saja, Rosidah ingin menolak tetapi, dia tidak ingin menyakiti hati orangtuanya karena memang ini sudah waktunya membangun rumah tangga. Dia sudah siap tetapi, tidak ada lelaki yang siap berumah tangga dengannya.
Langkahnya semakin ragu ketika mendekati ruang tamu. Suara laki-laki. Ah, dia sudah tau kemana tujuan pembicaraan nanti. Rosidah menghela nafas lemah. Ya Allah, jadikan ini yang terakhir. Hamba berharap ini adalah jodoh yang engkau kirimkan untukku. Doa Rosidah dalam hati. Harapan yang selalu terucap.
Saat diambang antara pintu ruang keluarga dan ruang tamu, Rosidah menengadah menatap siapa pemilik suara tersebut. Seseorang yang membuat Papanya tertawa begitu renyah. Matanya membelalak tak sadar mengeahui siapa yang ada dirumahnya saat ini. Ustad Talim dengan setelah kemeja kotak-kotak, celana bahan berwarna hitam dan peci hitam. Lelaki tersebut menatapnya dengan senyum dan kembali menatap Pak Ilham, Papa Rosidah yang sedanga sik bercengkrama.
Rosidah dibimbing mamanya berjalan ke kursi dekat papanya. Lelaki yang sudah memiliki banyak uban tersebut menengok ke arah Rosidah dan tersenyum.
“Dia putri saya. Saya sangat mencintai dan menyayanginya. Membesarkan dengan penuh kasih sayang. Kelak akan ada lelaki yang akan menggenggam tangannya dengan penuh kasih. Membuatnya bahagia. Mungkin saya kurang membahagiakannya ustad.” Pak Ilham berbicara sembari matanya berkaca. Melihat Rosidah menjadi gunjingan tetangga membuatnya sakit.
“Pa. Jangan bilang begitu. Rosidah bahagia bersama dengan Mama dan Papa.” Rosidah tersenyum menatap papanya yang sudah semakin menua. Dia sebenarnya terharu dan ingin mennagis saat ini juga. Wajah papanya sudah semakin menua dengan garis yang tercetak lurus. Tetapi pria tersebut masih juga memikirkan anak seperti dirinya yang masih juga melajang. Mendapat julukan perawan tua dilingkungannya.
Ustad Talim tampak tersenyum dan menatap Pak Ilham lekat. “Mungkin saya bisa menjadi seseorang yang menggenggam tangannya.”
Ucapan Ustad Talim membuat Pak Ilham dan Bu Eli menatap Ustad Talim bingung. terutama Rosidah yang tak percaya dengan pendengarannya. Apa maksudnya melamar? Hatinya seakan mencelos memikirkan hal tersebut. Senang bercampur khawatir dengan apa yang terjadi.
“Maksudnya apa, Nak Talim?” tanya Pak Ilham memastikan. Apa benar Ustad muda yang diidam-idamkan semua tetangga melamar anaknya?
Ustad Talim tersenyum. “Saya ingin melamar anak Bapak. Menjadikan dia istriku dan ibu dari anak-anakku kelak. Saya datang dengan niat baik. Saya ingin mempersunting Mbak Rosidah.”
Kalimat itu membuat Rosidah tercengang. Seorang Ustad yang terkenal memilihnya menjadi seorang istrinya? Bahkan dia hanya bertemu dengannya sekali. Setelahnya dia tidak pernah bertemu dengan pria tersebut. Sudah hampir satu bulan pertemuannya dengan Ustad Talim dan merea juga tidak dekat.
Pak Ilham menatap Rosidah yang hanya diam. “Bagaimana denganmu, Nak?”
Rosidah menatap papanya dan menatap Ustad Talim ragu. Apa benar ini jodoh yang engkau berikan kepadaku, Ya Allah? Apa ini jawaban atas doa-doaku? Dia bahkan tidak mengenal siapa pria ini dengan baik. Akankah dia menjadi seorang istri yang benar dan diharapkan? Rosidah takut melakukan kesalahan dengan keluarga Talim. Semua orang tau bagaimana keluarga ustad muda tersebut. Taat dalam agama.
“Apalagi yang kamu cari, Nak? Ustad Talim datang ke sini untuk melamarmu. Apa kamu masih ragu? Ada syarat yang ingin kamu ajukan?” tanya Bu Eli yang merasa tidak sabar dengan keterdiaman anaknya.
Rosidah menggeleng pelan. “Ros hanya ingin seorang imam yang mampu membimbing Ros ke jalan yang baik. Menyayangi Ros dan keluarga. Bertanggung jawab. Seorang imam yang mampu dijadikan teladan untuk anak-anaknya kelak.” Rosidah menatap Ustad Talim malu. Dengan keimanan yang masih terlalu cetek, dia mengharapkan pria yang sedemikian sempurna dalam agamanya.
Ustad Talim tersenyum. “Mungkin saya tidak bisa menjadi imam yang baik untuk Mbak Ros. Dengan agama yang masih terlalu cetek. Pengetahuan yang tidak begitu banyak. Jika harus membawa Mbak Ros ke jalan yang lebih baik, saya rasa tidak bisa. Karena pengetahuan saya tentang agama juga masih sama dengan yang lain.”
Mendengar hal tersebut membuat Ros tersenyum pahit. Ya, nasibnya masih sama. Apa dia tidak bisa mendapatkan kriteria yang disebutkannya diatas? Hatinya terasa sakit mendengar penolakan lagi. Rosidah hanya tersenyum dan mengangguk. Dia cukup sadar diri. Keinginannya terlalu tinggi.
“Tetapi jika Mbak Rosidah mau meraih bersama saya, berjalan bersama menuju jalan yang lebih baik, saya siap. Kita sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik. Menjadi seorang umat yang baik. Menjadi orangtua yang baik. Seorang suami dan istri yang baik. Saya siap. Saya tidak bisa membawa sendiri tetapi saya bisa berjalan bersama. Mungkin saya bukan umat yang bai tetapi kita bisa belajar menjadi lebih baik.” Ustad Talim tersenyum. “Pada dasarnya semua umat tidak ada yang sempurna. Saya mencintai anda bukan karena kecantikan anda tetapi kesabaran anda. Allah seperti mempertemukan saya dengan wanita yang benar akan menjadi jodoh saya.”
Rosidah yang mendengar melongo. Biasanya mereka akan pergi dan tidak melihatnya lagi. Mungkin Allah tak menjodohkannya dan mempersiapkan Ustad Talim, lelaki yang bahkan tak pernah ditemui sebelumnya. Dia hanya mendengar rumor Ustad muda yang banyak diidamkan ibu-ibu dikompleksnya. Mengharapkan Ustad Talim menjadi menantunya.
“Bagaimana dengan Mbak Rosidah? Apa Mbak siap belajar bersama dengan saya?” tanya Ustad Talim dengan senyum yang begitu ketar-ketir. Dia mencintai wanita ini sejak pertama kali bertemu di masjid. Dia mendengar semua sindiran ibu-ibu tetapi Rosidah hanya diam. Dia yakin jika Rosidah bisa menjadi istri yang baik untuknya. Dengan kesabaran dan kelembutannya.
Rosidah tersenyum dan mengangguk. “Saya mau, Ustad.” Ujarnya mendapat sambutan bahagia. Pak Ilham dan Bu Eli tersenyum bahagia. Sampai air mata orangtuanya mengalir dan memeluk anak semata wayangnya. Bi Imah yang sejak tadi mendengar percakapan mereka dari balik dinding ikut menitikan air mata. Dia bahagia mendengar kabar baik ini.
“Itu jodoh yang sudah ditentukan Allah untukmu, Mbak. Lelaki baik yang akan membawamu ke jalan yang lebih baik.” ucap Bi Imah sembari mengusap air matanya. Dia terlalu bahagia mendengarnya. Kesabaran yang Allah berikan selama ini mendapatkan hasil bai. Allah sang maha tau dan maha baik.
“Besok keluarga saya akan datang kemari. Untuk menentukan tanggal pernikahan dan melamar Mbak Rosidah secara langsung.” Ujar Ustad Talim.
Rosidah tersenyum dan mengangguk. Mungkin kamu jawaban untuk surat yang selalu kukirim melalui doa setiap malamnya. Ya Allah, engkau maha baik. Memberikan seorang jodoh yang tak pernah terbayangkan. Jodoh yang sempurna bagi hambamu ini. ucap Rosidah dalam hati.
Allah memiliki caranya tersendiri. Bagaimana dia memberikan sakit dan obatnya. Mempertemukan hati yang bahkan tak pernah bertemu. Rencana indah Allah memang tidak ada yang tau. Rencana indah yang membuat hambanya tersenyum.
*****
Oleh: NURUL KHOIRIYAH
Dalam remangnya ruangan, hanya denting jarum jam yang masih bergerak memutari waktu. Seorang wanita duduk bersimpuh menadahkan tangan. Air matanya bercucuran. Tak ada seorang pun yang membuka mata saat itu. Dia hanya seorang diri. Di dalam kubah bagaikan istana. Di rumahnya tak ada yang membuka mata saat itu
Rosidah, wanita berumur tiga puluh tahun yang belum juga mendapatkan pasangan hidup. Tetangga sudah sering menggunjingkan dirinya yang menjadi perawan lapuk. Ya, itu sebutan yang mereka berikan. Ngilu tetapi dia hanya diam.
Rosidah bukanlah sosok yang jauh dari kata sempurna. Dia wanita yang kaya raya dengan wajah yang ayu. Bukan hanya itu, dia juga memiliki hati yang mulia. Kecantikannya tak membutuhkan make up. Wajah bersinar yang selalu disiram dengan air wudhu.
Rosidah menitikan air mata. Memohon pertolongan dari yang kuasa. Doa yang belum juga terkabul sampai saat ini. Memiliki pasangannya sendiri.
Ya Allah, jika memang manusia selalu memiliki pendamping, dimana pendamping yang akan kau berikan untukku. Aku tak membutuhkan pria kaya dengan segudang ketampanan, aku hanya menginginkan pendamping yang sesuai dengan ketentuanmu. Pendamping yang seiman dan dapat membimbingku menuju jalanmu.
Itulah doa yang selalu dipanjatkan Rosidah setiap malam. Di tengah malam dan setiap waktunya. Dia terlalu lemah jika harus menanggapi omongan pedas tetangganya. Bahkan hampir setiap pagi omongan pedas itu mampir ke telinganya. Menusuk bahkan hingga tulangnya. Yang dilakukannya hanya mengelus dada dan mencoba sabar. Menerima kenyataan bahwa memang itulah dirinya.
Tetesan air mata mulai merembes hingga menjadi tetesan yang mulai berlinang. Rosidah menangis tergugu. Bukan karena nasib yang menimpanya tetapi, dia benar-benar tidak tahan. Hatinya berteriak kencang. Ya, dia hanya malu dan lelah mendengar cemoohan tetangga yang tiada hentinya.
*****
“Mbak Rosidah gak ke kantor?” tanya Bi Imah, pembantu rumah tangga yang sudah setia bekerja dengan keluarganya sejak sepuluh tahun yang lalu.
Rosidah yang saat itu sedang mengambil minum di dapur hanya tersenyum dan mendekati Bi Imah. Dia melihat tangan cekatan asisten rumah tangganya yang sedang memasak. Ah, rasanya ingin dia membantu tetapi, Bi Imah selalu menghalanginya. Meski begitu, dia juga seorang chef yang handal.
Ah, siapa yang akan mencicipi makananya jika dia memasak. Siapa yang akan memuji usahanya. Seorang lelaki yang akan menikmati santapannya dengan penuh cinta? Pikirannya melayang entah kemana. Membuatnya harus menghela nafas dalam. Memikirkannya saja membuat sesak didada.
“Mbak Rosidah kenapa?” tanya Bi Imah yang mendengar helaan nafas Rosidah.
Rosidah menengok dan tersenyum. “Tidak apa, Mbok. Mama dan Papa kemana?” tanya Rosidah tak melihat kehadiran dari orangtuanya.
“Oh, Non sama Tuan sudah berangkat ke kantor sejak tadi pagi.” Bi Imah masih sibuk dengan pisaunya.
Rosidah hanya mengangguk. Hari ini hari Jum’at sehingga orangtuanya harus berangkat pagi. Mengerjakan tugasnya lebih awal karena mereka akan datang ke pengajian yang rutin diadakan kantor.
Rosidah kembali menatap Bi Imah yang saat itu tengah memasak dan menyentuh pundaknya. Membuat wanita paruh baya itu menengok dan menatapnya heran.
“Kenapa, Mbak?”tanyanya penasaran.
“Ros boleh ikut ke pengajian bareng Bi Imah?” rasanya sudah lama dia tidak berkumpul dna sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin ini alasan mengapa dia belum juga mendapatkan kepercayaan jodoh. Karena dia masih sering mengeluh. Tidak sepenuhnya sabar dan ikhlas.
“Mbak Ros mau ikut?” Bi Imah mengulanginya lagi.
Rosidah hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum bak malaikat yang selalu menentramka. Sayang, belum ada lelaki yang memilikinya. Rosidah hanya berusaha menjadi lebih baik. Selama ini aku terlalu melupakanmu Ya Allah. Aku jauh dari kata umatmu yang sempurna. Meski dia tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Tetap saja dia merasa terlalu jauh dari kata taat.
*****
Rosidah duduk bersimpuh dilantai masjid tak jauh dari rumahnya. Berapa lama dia tak mengunjungi rumah Allah ini? Dia sering memilih sholat sendiri saat berada di kantor. Dia hanya malu karena pada saat usia yang sudah hampir lebih dari tiga puluh tahun masih begitu lemah. Memikirkan soal jodoh yang jelas-jelas memang ada untuknya.
“Lho, Rosidah ikut to.” Celetuk seorang wanita paruh baya dengan kacamata yang bertengger.
Rosidah yang saat itu tengah melamun langsung sadar dan tersenyum. “Iya, Tante.”jawab Rosidah lemah lembut. Dia memang seorang gadis yang begitu lembut dan memiliki tata krama yang baik. Tetapi sayang, hingga saat ini dia masih terus melajang. Allah seakan tengah mengujinya.
“Tumben gak kerja. Biasanya berangkat pagi pulang malam.”sindir seorang yang berada didekat Ibu berkacamata.
Rosidah hanya tersenyum dan menanggapi dengan nada lembut. “Iya, Bu. Hari ini saya memang sengaja ijin. Lagi pula di kantor sudah ada, Papa yang juga ikut membantu.”
Senyum sinis terlukis dari wajah wanita tersebut dan menatap Rosidah sinis. “Itu karena dia baru sadar kalau anaknya sudah jadi perawan tua.”
“Iya, Rosidah. Kamu itu udah tiga puluh tahun tetapi belum punya pendamping. Anak saya saja sudah punya dua anak.” Timpal tetangga yang lain.
Rosidah hanya tersenyum menanggapi. Dia tidak mau menjawab dan hanya beristighfar dalam hati. Semoga Allah selalu menguatkan hatinya. Rasanya sakit mengingat kenyataan bahwa hanya dirinya yang masih lajang.
“Itu karena kamu yang sibuk dengan pekerjaan. Sampai tidak ada lelaki yang siap menikahimu. Seperti sekarang ini, kamu jadi masih lajang.” Ujar ketus Ibu berkacamata.
Ah, pikirannya benar-benar buyar. Air matanya siap mengalir tatkala mereka hanya membahas cucu mereka. Dia merasa orangtuanya juga menginginkan seorang cucu darinya. Tetapi apa daya jika memang dia belum diberikan kesempatan dan tanggung jawab menjadi seorang istri. Allah pasti tau apa yang terbaik untuknya.
Bi Imah yang baru saja kembali dari toilet mendengar Ibu-ibu tersebut menggosipkan tentang Rosidah. Mengatakan bahwa kecantikannya bukan murni sehingga tidak mendapatkan mendamping. Lewat susuk atau semacam hal gaib lainnya. Kupingnya terasa panas. Bi Imah langsung berjalan melewati mereka dan mendekati Rosidah yang masih diam meski sudah disakiti.
“Mbak Rosidah baik-baik saja? Kalau tidak kita bisa pulang saja.” ujar Bi Imah merasa kasihan dengan Rosidah.
Rosidah mencegah tangan Bi Imah yang siap menariknya. Dia menggeleng lembut dan masih dengan senyum. “Tidak perlu, Mbok. Kita ke sini untuk pengajian, kan? Saya baik-baik saja.”ujar Rosidah sekan tak berpengaruh dengan kalimat dari Ibu-ibu. Dia bahkan tidak sadar ada sepasang mata yang menatapnya takjub.
*****
Rosidah tidak menyangka jika Ustad yang diceritakan Bi Imah masih semuda yang dilihatnya. Tak ada wajah serius yang membuat semua pengunjung menjadi lelah dan bosan. Yang ada malah sebaliknya. Semua ibu-ibu pengajian tertawa setiap kali membahas mengenainya yang belum datang. Entah mengapa, Rosidah merasa itu cerita hidupnya.
“Jangan ge-er Ros. Siapa dia sampai menyukaimu?” tanyanya dalam hati saat tak sengaja dia melihat sang ustad menatapnya dan tersenyum.
Sepanjang pengajian, dia hanya menunduk dan tak pernah memperhatikan depan. Dia benar-benar membuang wajah. Tak seharusnya dia memiliki hati kepada pria yang bahkan baru beberapa detik ditemuinya.
Rosidah tersenyum. Dia belum mencintai lelaki tersebut. Dia hanya kagum, diusianya yang masih terbilang muda, dia sudah menjadi seorang Ustad yang dapat menyampaikan materi dengan begitu apik.
Satu yang diingatnya. Saat sang Ustad yang diketahui namanya adalah Talim itu mengatakan, ‘Coba kirim surat ke Allah melalui doa. Siapa tau Allah menyampaikan suratmu kepada jodoh yang tepat.’ Kalimat yang masih terngiang hingga pengajian usai.
Setelah usai, Rosidah ikut membersihkan masjid bersama dengan Bi Imah dan beberapa ibu-ibu lainnya. Ustad Talim juga ikut keluar untuk mengambil wudhu. Beberapa Ibu-ibu memang ada yang pulang dan ada yang masih menunggu untuk sholat Ashar berjamaah. Termasuk Rosidah.
Tak lama setelah itu, Ustad Talim masuk dan menjadi imam. Rasanya begitu sejuk. Adem dan tentram mendengar lantunan ayat Al-qur’an yang dibacakan leh ustad muda tersebut. Terutama Rosidah. Dia ingin menangis dan bersimpuh memohon petunjuk dari sang kuasa.
Setelah selesai, Rosidah keluar terakhir dengan Bi Imah. Dia harus ke toilet dan setelah kembali dia langsung melangkah pulang bersama dengan Bi Imah. Di jalan, dai berpapasan dengan Ustad Talim. Lelaki tersebut hanya tersenyum dan mengucapkan salam yang dibalas Rosidah dan Bi Imah.
“Bi Imah, ini siapa?” tanya Ustad Talim penasaran.
“Oh, ini Mbak Rosidah. Anak dari Nyonya dan Tuan, Ustad.” Bi Imah menatap Rosidah yang hanya menunduk.
Ustad talim menatap Rosdiah yang hanya menunduk. Bi Imah yang memperhatikan mereka berdua langsung tersenyum. Dia tau jika Rosidah menunduk, berarti dia merasa malu. Dia sudah bersama dengan Rosidah tak hanya satu atau dua tahun. Semua kebiasaannya pun dia hafal.
“Ustad, apa Ustad sudah memiliki calon?” tanya Bi Imah dengan tatapan jenaka.
Ustad Talim hanya tersenyum dan menggeleng. “Saya belum memiliki pendamping.”
Rosidah hanya diam mendengarkan. Dia tidak mau ikut campur dan menghayal terlalu tinggi untuk mendapatkannya. Dia tau dimana batasannya. Seorang lelaki biasa bahkan tak mau bersama dengannya. Dia ingat sudah hampir lima kali orangtuanya menjodohkannya dan hasilnya nihil. Semua kabur dan tak mau memenuhi keinginan Rosidah.
Beri aku mahar dengan surat Ar-Rahman. Aku tak mengharapkan apapun kecuali kau membawaku menuju ke jalan yang lebih baik. Menjadi imam untukku dan anak-ana kita kelak.
Hanya itu syarat yang diinginkan Rosidah. Tetapi dia bahkan tak mendapatkannya. Mungkin dai terlalu banyak menuntut. Dia mengharapkan seorang yang luar biasa untuk dia yang memang baisa. Iman yang maish minim. Masih sering mengeluh. Meski dia tak pernah meninggalkan puasa senin kamis. Bahkan dia selalu menjalankan sholat malam. Tetapi dia merasa semuanya memang kurang untuk mendapatkan lelaki yang benar-benar baik.
“Mbak Rosidah ya masih lajang, Ustad.” Celetuk Bi Imah membuat Rosidah yang berada didekatnya membelalak kaget.
“Bi Imah, apa-apaan sih.” Protes Rosidah tak enak hati.
“Gak apa, Mbak. Kali aja jodoh.” Bi Imah malah tersenyum dan melihat Ustad Tlim yang hanya tersenyum.
Rosidah tersenyum canggung dan menggiring Bi Imah menjauh. Setelah berpamitan, Rosidah membawa Bi Imah pulang. Tak jauh dari tempatnya saat ini. rosidah benar-benar malu dengan tingkah asisten rumah tangganya.
“Mbok Imah ini ada-ada aja.” Protes Rosidah sembari menaiki tangga ke arah kamar.
“Kali aja jodohkan, Mbak.” Bi Imah menanggapi dari bawah.
Rosidah hanya menggeleng dan tersenyum. Dalam hatinya berkata, “Amin.” Dia berharap mendapat orang yang seiman dengan tanggung jawabnya sebagai imam keluarganya. Membimbingnya menuju jalan yang jauh lebih baik.
*****
Ya Allah, jika jodoh yang kau inginkan masih berjalan terlalu jauh, maka dekatkanlah dia. Jodoh terbaik yang engkau maksudkan untuk hambamu yang serba kekurangan. Hamba yang tak akan pernah mencapai kesempurnaan karena memang tak ada mahluk yang sempurna. Hadirkanlah seorang pria yang mampu membawa hambamu ini menuju jalan kebaikan. Memang hamba tak pantas untuk memohon karena berjuta dosa yang telah hamba lakukan tetapi, hamba tidak memiliki tempat meminta kecuali kepada engkau sang penguasa alam semesta. Hadirkanlah jodoh yang telah lama engkau simpan Ya Allah. Hadirkan dia dengan caramu dan jadikan kamu dengan caramu.
Begitu doa yang selalu disampaikannya. Rosidah berada dikamarnya. Menadahkan tangan dengan penuh harap. Air matanya selalu berlinang ketika bersujud dan menadahkan tangan. Dia bukanlah orang yang sempurna. Dia hanya hamba yang juga memiliki kelemahan.
Rosidah sudah selesai sholat Maghrib dan dia sedang berkemas. Sebelum seseorang mengetuk pintu dan langsung dibuka. Tampak seorang wanita dengan kerudung merah darah melongo dari balik pintu. setelah tersenyum dai langsung masuk dan mendekati Rosdiah yang masih membereskan sajadah dan mukenanya.
“Sayang, kamu sibuk?” tanya Bu Eli, Mama Rosidah dengan lembut.
Rosidah menggeleng. “Tidak, Ma. Ada yang bisa Ros bantu?”
Mamanya menggeleng dan tersenyum. “Papa mau mengatakan hal penting. Kamu sudah ditunggu di bawah.”
Rosidah tersenyum dan langsung mengikuti mamanya. Dia tak menggunakan make up. Hanya setelah biasa dengan jilbab pasmina berwarna hitam. Selaras dengan celana bahan yang digunakannya. Hatinya berdetak lebih cepat. Apalagi yang terjadi? apa dia akan dijodohkan lagi? pikiran itu berkecambuk dan membuatnya takut. Dia takut jika harus dikecewakan lagi.
Langkahnya ragu menuruni tangga. Sudah banyak lelaki yang bertemu dan dikenalkan orangtuanya. Jujur saja, Rosidah ingin menolak tetapi, dia tidak ingin menyakiti hati orangtuanya karena memang ini sudah waktunya membangun rumah tangga. Dia sudah siap tetapi, tidak ada lelaki yang siap berumah tangga dengannya.
Langkahnya semakin ragu ketika mendekati ruang tamu. Suara laki-laki. Ah, dia sudah tau kemana tujuan pembicaraan nanti. Rosidah menghela nafas lemah. Ya Allah, jadikan ini yang terakhir. Hamba berharap ini adalah jodoh yang engkau kirimkan untukku. Doa Rosidah dalam hati. Harapan yang selalu terucap.
Saat diambang antara pintu ruang keluarga dan ruang tamu, Rosidah menengadah menatap siapa pemilik suara tersebut. Seseorang yang membuat Papanya tertawa begitu renyah. Matanya membelalak tak sadar mengeahui siapa yang ada dirumahnya saat ini. Ustad Talim dengan setelah kemeja kotak-kotak, celana bahan berwarna hitam dan peci hitam. Lelaki tersebut menatapnya dengan senyum dan kembali menatap Pak Ilham, Papa Rosidah yang sedanga sik bercengkrama.
Rosidah dibimbing mamanya berjalan ke kursi dekat papanya. Lelaki yang sudah memiliki banyak uban tersebut menengok ke arah Rosidah dan tersenyum.
“Dia putri saya. Saya sangat mencintai dan menyayanginya. Membesarkan dengan penuh kasih sayang. Kelak akan ada lelaki yang akan menggenggam tangannya dengan penuh kasih. Membuatnya bahagia. Mungkin saya kurang membahagiakannya ustad.” Pak Ilham berbicara sembari matanya berkaca. Melihat Rosidah menjadi gunjingan tetangga membuatnya sakit.
“Pa. Jangan bilang begitu. Rosidah bahagia bersama dengan Mama dan Papa.” Rosidah tersenyum menatap papanya yang sudah semakin menua. Dia sebenarnya terharu dan ingin mennagis saat ini juga. Wajah papanya sudah semakin menua dengan garis yang tercetak lurus. Tetapi pria tersebut masih juga memikirkan anak seperti dirinya yang masih juga melajang. Mendapat julukan perawan tua dilingkungannya.
Ustad Talim tampak tersenyum dan menatap Pak Ilham lekat. “Mungkin saya bisa menjadi seseorang yang menggenggam tangannya.”
Ucapan Ustad Talim membuat Pak Ilham dan Bu Eli menatap Ustad Talim bingung. terutama Rosidah yang tak percaya dengan pendengarannya. Apa maksudnya melamar? Hatinya seakan mencelos memikirkan hal tersebut. Senang bercampur khawatir dengan apa yang terjadi.
“Maksudnya apa, Nak Talim?” tanya Pak Ilham memastikan. Apa benar Ustad muda yang diidam-idamkan semua tetangga melamar anaknya?
Ustad Talim tersenyum. “Saya ingin melamar anak Bapak. Menjadikan dia istriku dan ibu dari anak-anakku kelak. Saya datang dengan niat baik. Saya ingin mempersunting Mbak Rosidah.”
Kalimat itu membuat Rosidah tercengang. Seorang Ustad yang terkenal memilihnya menjadi seorang istrinya? Bahkan dia hanya bertemu dengannya sekali. Setelahnya dia tidak pernah bertemu dengan pria tersebut. Sudah hampir satu bulan pertemuannya dengan Ustad Talim dan merea juga tidak dekat.
Pak Ilham menatap Rosidah yang hanya diam. “Bagaimana denganmu, Nak?”
Rosidah menatap papanya dan menatap Ustad Talim ragu. Apa benar ini jodoh yang engkau berikan kepadaku, Ya Allah? Apa ini jawaban atas doa-doaku? Dia bahkan tidak mengenal siapa pria ini dengan baik. Akankah dia menjadi seorang istri yang benar dan diharapkan? Rosidah takut melakukan kesalahan dengan keluarga Talim. Semua orang tau bagaimana keluarga ustad muda tersebut. Taat dalam agama.
“Apalagi yang kamu cari, Nak? Ustad Talim datang ke sini untuk melamarmu. Apa kamu masih ragu? Ada syarat yang ingin kamu ajukan?” tanya Bu Eli yang merasa tidak sabar dengan keterdiaman anaknya.
Rosidah menggeleng pelan. “Ros hanya ingin seorang imam yang mampu membimbing Ros ke jalan yang baik. Menyayangi Ros dan keluarga. Bertanggung jawab. Seorang imam yang mampu dijadikan teladan untuk anak-anaknya kelak.” Rosidah menatap Ustad Talim malu. Dengan keimanan yang masih terlalu cetek, dia mengharapkan pria yang sedemikian sempurna dalam agamanya.
Ustad Talim tersenyum. “Mungkin saya tidak bisa menjadi imam yang baik untuk Mbak Ros. Dengan agama yang masih terlalu cetek. Pengetahuan yang tidak begitu banyak. Jika harus membawa Mbak Ros ke jalan yang lebih baik, saya rasa tidak bisa. Karena pengetahuan saya tentang agama juga masih sama dengan yang lain.”
Mendengar hal tersebut membuat Ros tersenyum pahit. Ya, nasibnya masih sama. Apa dia tidak bisa mendapatkan kriteria yang disebutkannya diatas? Hatinya terasa sakit mendengar penolakan lagi. Rosidah hanya tersenyum dan mengangguk. Dia cukup sadar diri. Keinginannya terlalu tinggi.
“Tetapi jika Mbak Rosidah mau meraih bersama saya, berjalan bersama menuju jalan yang lebih baik, saya siap. Kita sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik. Menjadi seorang umat yang baik. Menjadi orangtua yang baik. Seorang suami dan istri yang baik. Saya siap. Saya tidak bisa membawa sendiri tetapi saya bisa berjalan bersama. Mungkin saya bukan umat yang bai tetapi kita bisa belajar menjadi lebih baik.” Ustad Talim tersenyum. “Pada dasarnya semua umat tidak ada yang sempurna. Saya mencintai anda bukan karena kecantikan anda tetapi kesabaran anda. Allah seperti mempertemukan saya dengan wanita yang benar akan menjadi jodoh saya.”
Rosidah yang mendengar melongo. Biasanya mereka akan pergi dan tidak melihatnya lagi. Mungkin Allah tak menjodohkannya dan mempersiapkan Ustad Talim, lelaki yang bahkan tak pernah ditemui sebelumnya. Dia hanya mendengar rumor Ustad muda yang banyak diidamkan ibu-ibu dikompleksnya. Mengharapkan Ustad Talim menjadi menantunya.
“Bagaimana dengan Mbak Rosidah? Apa Mbak siap belajar bersama dengan saya?” tanya Ustad Talim dengan senyum yang begitu ketar-ketir. Dia mencintai wanita ini sejak pertama kali bertemu di masjid. Dia mendengar semua sindiran ibu-ibu tetapi Rosidah hanya diam. Dia yakin jika Rosidah bisa menjadi istri yang baik untuknya. Dengan kesabaran dan kelembutannya.
Rosidah tersenyum dan mengangguk. “Saya mau, Ustad.” Ujarnya mendapat sambutan bahagia. Pak Ilham dan Bu Eli tersenyum bahagia. Sampai air mata orangtuanya mengalir dan memeluk anak semata wayangnya. Bi Imah yang sejak tadi mendengar percakapan mereka dari balik dinding ikut menitikan air mata. Dia bahagia mendengar kabar baik ini.
“Itu jodoh yang sudah ditentukan Allah untukmu, Mbak. Lelaki baik yang akan membawamu ke jalan yang lebih baik.” ucap Bi Imah sembari mengusap air matanya. Dia terlalu bahagia mendengarnya. Kesabaran yang Allah berikan selama ini mendapatkan hasil bai. Allah sang maha tau dan maha baik.
“Besok keluarga saya akan datang kemari. Untuk menentukan tanggal pernikahan dan melamar Mbak Rosidah secara langsung.” Ujar Ustad Talim.
Rosidah tersenyum dan mengangguk. Mungkin kamu jawaban untuk surat yang selalu kukirim melalui doa setiap malamnya. Ya Allah, engkau maha baik. Memberikan seorang jodoh yang tak pernah terbayangkan. Jodoh yang sempurna bagi hambamu ini. ucap Rosidah dalam hati.
Allah memiliki caranya tersendiri. Bagaimana dia memberikan sakit dan obatnya. Mempertemukan hati yang bahkan tak pernah bertemu. Rencana indah Allah memang tidak ada yang tau. Rencana indah yang membuat hambanya tersenyum.
*****

ConversionConversion EmoticonEmoticon